Kolaborasi BRMP Kementan dan LPPM Unsulbar Dukung Swasembada Pangan Melalui Pengembangan Padi Gogo
POLEWALI MANDAR-Dalam upaya mendukung program nasional swasembada pangan, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian menggandeng Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) pada kegiatan peningkatan kapasitas petani di Desa Pollewani, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar.
Kegiatan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Petani melalui Transfer Teknologi Peningkatan Produksi dan Kualitas Padi Organik dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional” ini menjadi bagian dari strategi penguatan sektor pertanian melalui transfer pengetahuan dan teknologi kepada petani, khususnya dalam pengembangan padi gogo pada lahan kering.
Acara yang digelar pada Jumat, 15 Agustus 2025 ini turut dihadiri oleh Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Percepatan Produksi Pertanian, Prof. Ir. Muhammad Arsyad, SP., M.Si., Ph.D, Guru Besar Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Ir. Yunus Musa, M.Sc, serta Ketua LPPM Unsulbar Muhammad Nasir Badu, Ph.D, yang mewakili Rektor Unsulbar. Hadir pula para staf pengajar Unsulbar, perwakilan BRMP Sulawesi Barat, Koordinator BPP Tutar, Kepala Desa Pollewani, serta kelompok tani setempat sebagai peserta utama kegiatan.
Dalam sambutannya, Prof. Muhammad Arsyad menegaskan pentingnya peran padi gogo dalam mendukung ketahanan dan kemandirian pangan nasional, terutama melalui pemanfaatan lahan kering yang selama ini kurang optimal. Beliau menekankan bahwa pengembangan padi gogo, baik melalui sistem monokultur maupun tumpangsari dengan tanaman perkebunan, merupakan salah satu strategi kunci dalam mewujudkan visi swasembada pangan sebagaimana tercantum dalam Nawa Cita Presiden.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua LPPM Unsulbar dan dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi oleh narasumber, dari BRMP Sulawesi Barat Marthen P Sirappa yang mengangkat topik “Budidaya Padi Gogo Secara Baik (GAP – Good Agricultural Practices)”. Materi ini menekankan pentingnya penggunaan varietas unggul, benih bersertifikat, dan praktik budidaya yang tepat guna meningkatkan produktivitas padi gogo yang selama ini masih rendah di wilayah tersebut, yakni berkisar 1–2 ton per hektare.
Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pemanfaatan varietas Inpari 32, yang meskipun dirancang untuk lahan sawah, terbukti memiliki toleransi terhadap kekeringan dan dapat ditanam di lahan kering dengan memperhatikan pola curah hujan. Selain itu, penting pula pengelolaan hara tanah melalui pemberian pupuk organik maupun anorganik secara berimbang, mengingat sebagian besar petani di Pollewani belum menerapkan pemupukan secara optimal karena keterbatasan akses dan biaya distribusi.
Kegiatan juga diisi dengan praktik lapangan penanaman padi pada demplot yang telah disiapkan. BRMP Sulbar memberikan demonstrasi teknik tanam di lahan berlereng menggunakan metode jajar legowo 2:1 dan 4:1, yang terbukti efektif dalam meningkatkan populasi tanaman, efisiensi penyerapan cahaya matahari, serta memudahkan pemeliharaan tanaman.
Pada sesi diskusi dan tanya jawab, para petani menyampaikan berbagai kendala dalam budidaya padi gogo, termasuk tantangan teknis dan ekonomi. Para narasumber menanggapi dengan berbagai solusi teknis serta mendorong adanya sinergi lintas sektor untuk mendukung keberlanjutan program ini.
Kolaborasi antara BRMP Kementerian Pertanian, LPPM Unsulbar, dan stakeholder lainnya menunjukkan bahwa dukungan nyata dari perguruan tinggi dan lembaga pemerintah daerah sangat penting dalam mendekatkan inovasi kepada petani. Diharapkan, kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam membangun kemandirian pangan nasional melalui optimalisasi lahan kering dan peningkatan kapasitas petani secara berkelanjutan.